BERUCAP ALHAMDULILLAH, SUFI MASYHUR MENYESAL HINGGA BERISTIGHFAR 30 TAHUN

oleh: Akhmad Rudi Masrukhin

Apa yang salah dengan kalimah thayyibah “Alhamdulillah” ? bacaan mulia juga pujian yang disertai rasa cinta dan pengagungan kepada Allah SWT. Namun, bagi Arif biLlah, Syekh Sariy As Saqathy (wafat tahun 253 H./967 M. di usia 98 tahun) murid sufi besar Ma’ruf Karkhy sekaligus paman dari bapak para sufi Al Junaidi adalah sebuah penyesalan besar. Ia pernah berkata: “Tiga puluh tahun aku beristighfar, memohon ampun kepada Allah atas ucapanku sekali ‘Alhamdulillah’!”

Diceritakan, suatu ketika terjadi kebakaran hebat di pasar Baghdad. Saat itu Syekh Sariy As Saqathy memiliki toko di sana. Lalu suatu hari ia mendengar berita bahwa pasar Baghdad hangus terbakar dimana toko miliknya berada di pasar tersebut.

kemudian Syekh Sariy As Saqathiy bergegas ke sana untuk memastikan apakah tokonya terbakar atau tidak. Lalu datang sesama pengusaha yang kemudian memberitahunya, ”Api tidak membakar tokomu”. Spontan Syaikh Sariy Saqathy berucap, “Alhamdulillah”. Kalimat itupun terdengar jelas oleh orang yang berada di dekatnya.  

Tidak lama berselang, ia kemudian merenung hebat. Hati nurani yang paling dalam telah menegurnya,  ”Apakah hanya engkau saja yang berada di dunia ini? Walaupun tokomu tidak terbakar, bukankah toko-toko orang lain banyak yang terbakar. Ucapan “Alhamdulilah” menunjukkan bahwa engkau bersyukur api tidak membakar tokomu. Namun lantas engkau telah rela toko-toko orang lain terbakar, asalkan tokomu tidak terbakar? Tidak adakah sedikitpun perasaan sedih di hatimu atas musibah yang menimpa banyak orang, wahai Sariy?”

Kemudian Syekh Sariy teringat dengan sebuah hadits, ”Barang siapa melewatkan waktu paginya tanpa memerhatikan urusan kaum muslimin, niscaya bukanlah ia termasuk dari kaum muslimin”.

Kejadian itu begitu memukul bathin dan membekas dalam sanubari Syekh Sariy As Saqathy, sehingga beliau beristighfar memohon ampun kepada Allah SWT selama 30 tahun.

Dari sini tidak ada yang salah dengan kalimat thayyibah ‘Alhamdulillah’. Namun dari kisah ini mengandung hikmah yang mengajarkan pada diri kita sebagai makhluk sosial, setidaknya mampu memawas diri dan selalu berhati-hati dalam mengekspresikan sikap dan ucap untuk menjaga perasaan orang lain. Terlebih kala mendapatkan nikmat ataupun keberhasilan.

***

Kisah ini pernah disampaikan oleh KH. Khairzad Maddah (Gus Yak), Syuriyah PCNU Kencong saat  peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus labelisasi masjid NU di Desa Mayangan Jember pada tanggal  18 Oktober 2021.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

LANGKAH ETIK DALAM MEMFASILITASI GADGET PADA ANAK